Sekarang lagi coba-coba bikin cerpen, tapi tetep bikin FF kok. Disini agak susah buat bikin cerpen, gimanapun cerpen harus sedikit realistis, dan buat nentuin nama juga susah.
Yang ini juga rasanya rada aneh, kesannya buru-buru banget -_-''
Buat cerpen disini aku ngambil scene di SMA ku tapi buat tokoh jelas fiktif semua.
New story begin--
Please enjoy it.
Fiona menyusuri setiap lorong dengan penuh kenangan, mengingat satu persatu hal yang pernah terjadi dalam hidupnya selama 3 tahun bersekolah di tempat ini. Dan tiga tahun pun telah berlalu semenjak ia meninggalkan sekolah dengan kebahagiaan, ketika menerima berita kelulusan.
Senyum simpul kadang muncul dari wajahnya, seperti menertawakan masa SMA yang begitu menyenangkan. Ketika berkumpul, tertawa dan menangis bersama. Mencari gebetan dan mengincarnya mati-matian, mengejek guru dibelakang ketika mendapatkan tugas yang menumpuk ataupun berusaha bersembunyi agar tidak ketahuan guru ketika membolos.
Langkahnya berhenti ketika mencapai sebuah ruangan kelas ketika ia masih berada di awal SMA, tepatnya kelas X. Sebelum sistem moving class diberlakukan, ia dan teman-temannya berada di kelas ini selama 1 tahun dan berpisah di tahun berikutnya.
Satu-satunya tempat yang benar-benar bisa ia kenang, ketika hampir semua kelas pernah ia datangi, kelas inilah yang paling jarang ia kunjungi ketika masih berada di sekolah, karena mapel yang ia dapatkan bukan berada di kelas ini.
Fiona membuka pintunya perlahan, dan melihat isi kelasnya. Sudah banyak yang berubah, tapi jelas tidak mengubah kenangannya. Kaki Fiona melangkah menuju sebuah kursi yang berada di barisan di deretan belakang, baris ketiga dari pintu masuk.
Fiona menempatkan diri di kursi tempat 5 tahun lalu ia berada. Dan melihat ke arah papan tulis yang bersih. Tangannya terlipat diatas meja dan membiarkan kepalanya terkulai. Matanya mulai tertutup hingga sebuah panggilan menyadarkannya.
“Ada orang disini?”
---
Tangannya membuka pintu dan melihat seseorang, sepertinya ia tertidur di meja itu. Wajahnya menunjukkan perasaan ragu untuk membangunkan wanita itu, ia tidak mengenalnya karena ia tidak melihat wajahnya. Akhirnya dengan sedikit ragu ia mengeluarkan suara.
“Ada orang disini?”
Wanita itu mengangkat kepalanya, lalu berbalik. Gama bisa menangkap ekspresi terkejut dari wanita itu, yang mengeja namanya pelan.
“Ga—ma? Kau disini?”
Gama mengangguk lalu tersenyum, ia mengenal wanita itu. Sangat mengenalnya.
“Bagaimana kabarmu Fiona? Kebetulan sekali.”
Wanita dengan rambut sebahu itu berdiri, dan melangkah mendekati dan juga membalas senyumnya, terlihat berbeda dan jelas lebih dewasa dari 3 tahun lalu.
“Baik, sebuah kebetulan, atau takdir?”
Benar-benar tak ada rasa canggung diantara mereka berdua seperti ketika masa SMA dulu. Kini mereka telah dewasa, dan semuanya telah berbeda, mungkin saja gadis yang ada dihadapannya telah mengubah sesuatu.
“Takdir, mungkin. Tumben kesini?”
“Cuma bernostalgia, bagaimana kalau kita duduk lagi sesuai tempat kita dulu.” Fiona mengulurkan tangan, menunjuk kearah kursi dimana Gama biasa duduk, Gama hanya bisa tersenyum ketika secara tidak langsung Fiona, membuat dirinya tersanjung. Bagaimana wanita itu masih bisa mengingat formasi duduk mereka.
---
“Aku duduk disini, kau tepat di deret sebelahku.”
“Didepanku ada si Kiki, lalu disampingnya ada Ita.”
“Di belakangku ada Olivia, disampingnya ada Rika.”
Fiona dan Gama tertawa, ingatan tentang formasi duduk mereka masih tertanam sempurna, ingatan yang baik ketika mengingat hal yang sepele, tapi tidak dengan rumus matematika atau fisika yang berkali-kali dijelaskan oleh guru.
“Rasanya aku lebih rindu dengan kelas 10 ku, kalau kau?”
“Aku, dua-duanya. Kelas 11 dan 10 ku menyenangkan. Kau tahukan cowok lebih gampang menyesuaikan keadaan kelas.”
Fiona mengangguk. “Aku tahu, hingga aku harus berusaha keras untuk mengajak kita kumpul kembali. Kalian benar-benar menyiksa kami.”
Tawa renyah keluar dari mulut Gama, menertawakan keluhan Fiona yang selalu ia dengar.
“Bagaimanapun, kau harusnya tahu. Mengumpulkan kami benar-benar sulit. Seharusnya kau menyerah saja.”
“Aku tahu, makanya aku tidak pernah mengajak kalian lagi setelah itu.”
Hening, tak ada lagi yang melanjutkan pembicaraan. Sampai Fiona yang tidak pernah tahan dalam keheningan membuka kembali pembicaraan.
“Kau kuliah dimana sekarang?”
“Undip, masih di Semarang, kau sepertinya diluar kota ya?”
“Begitulah, STAN. Aku masuk jurusan Ekonomi. Ekstrim kan?”
“Bangga? Dasar harusnya kau masuk jurusan IPS saja kalau akhirnya di Ekonomi.”
Fiona yang tertawa kali ini.
“Bagaimana bisa? Aku sudah memilih jurusan IPA, karena lebih mudah untuk memilih jurusan ketika kuliah. Hei, ngomong-ngomong kau tidak bersama Ruri?”
Kerutan dahi Gama muncul, seolah menanyakan apa maksud pertanyaan Fiona kali ini.
“Ah— itu aku dan dia sudah putus dari 2 tahun lalu.”
Hati Fiona terasa aneh ketika mendengar pernyataan Gama, pasangan yang sempat membuatnya gigit jari dan mencari pria lain untuk dicintai putus ketika mereka berdua bertemu lagi. Takdirkah?
“Oh, sayang sekali…”
Gama melirik Fiona, ekspresi gadis itu masih sulit ditebak ketika ia mengatakan berita itu, masihkah gadis itu menyimpan perasaan yang sama dengan 5 tahun lalu. Pertemuan kali ini apakah takdir yang menyatukan mereka?
“Lalu kau? Masih sama ketika SMA dulu? Menjomblo?”
Fiona hanya mengulum senyum, mendengar pertanyaan itu seperti memberikannya sindiran halus, bagaimana tidak lakunya ia ketika masih SMA menjomblo hingga lulus.
“Menurutmu?”
Gama memegang dagunya, berpikir lalu mengeluarkan senyum nakal. “Dengan penampilan seperti ini kau masih jomblo ya?”
Tangan Fiona melayang ke bahu Gama. “Enak saja, kau pikir aku segitu parah tidak lakunya ya?”
“Kau memintaku menilai kan? Itu yang ada dipikiranku. Lalu apa jawabannya?”
Fiona membuka mulut dan memanjangkan jawabannya, berharap ia tidak perlu menjawab apapun saat ini. “Itu—”
Suara pintu yang terbuka mengalihkan perhatian mereka berdua, seorang bapak-bapak dengan kemeja hitam melihat Fiona dan Gama yang menatap bapak itu dengan terkejut.
“Lho, mbaknya yang kemarin? Kesini lagi?”
Fiona maju menghampiri bapak itu, diikuti oleh Gama yang juga mengikuti Fiona ketika menyalami bapak itu.
“Iya, bapak apa kabar? Saya kan baru kesini 1 minggu lalu.”
“Baik, lho nak Fiona gak sama tunangannya yang kemarin? Ini siapa?”
Gama menyadari dirinya dipertanyakan saat ini, ia maju selangkah dan memperkenalkan diri. “Saya Gama pak, teman sekelas Fiona.”
“Ah— saya kira siapa. Oh ya, ini pintunya mau saya tutup gakpapa kan?”
Fiona segera mengangguk dan keluar dari ruangan. “Ah gakpapa pak. Kami juga udah puas lihat-lihatnya.”
---
“Oh tunangan?”
Fiona berbalik, dan melihat Gama yang sudah menemukan jawaban atas pertanyaan hari itu. “Ternyata kau sudah punya tunangan nih?”
Senyum simpul muncul dari wajah Fiona. “Ya begitulah.”
Gama menarik kedua tangan Fiona. “Tapi mana cincinnya?”
Fiona menarik tangannya buru-buru, terlalu gugup. “Aku malas memakainya, hehe”
“Kasihan tunanganmu, dia pasti akan menangis mendegarmu mengatakan hal seperti itu.”
Fiona menggosok tangannya pada lengan kiri, entah apa perasaan yang hinggap pada dirinya sekarang. “Dia sudah tahu kok, lagipula dia mengijinkannya.”
“Hmm—“
Hening lagi, tidak ada yang memulai pembicaraan, tidak juga Fiona. Perasaan Fiona masih tidak nyaman ketika harus berdekatan dengan orang yang pernah disukainya. Walaupun tidak sama seperti dulu tapi ia masih membawa perasaan canggung hingga sekarang.
“Kita kelapangan basket yok. Udah lama nih.” Gama menarik tangan Fiona dan membawanya ke lapangan basket, Fiona hanya mengikuti langkah Gama dan membiarkan tangan itu membawanya, hanya hari ini saja.
Lapangan basket sepi, karena hari libur, pagar kawat yang mengelilinginya pun sudah terlihat rapuh walaupun tetap terlihat mampu melindungi orang diluar lapangan, aman terlindung dari bola.
Gama mengambil sebuah bola basket, dan melemparkannya pada Fiona, yang masih terkejut ketika menerima lemparan itu.
“Ayo, masih bisa main gak?”
Fiona tersenyum melihat Gama yang mulai kembali seperti masa SMA dulu, ia bisa merasakan hangatnya dan bagaimana semangatnya ketika ia bermain basket.
“Yang kalah traktir makan ya!” tantang Fiona sambil mendrible bola, dan setelah itu tak ada yang bisa mencegah mereka terus bermain hingga kelelahan.
.
.
Fiona berselonjor di samping Gama yang menawarkan sebotol air mineral padanya. Tangan Fiona menyambut botol itu dengan sukacita, ia benar-benar dehidrasi setelah kalah dari Gama.
Cowok itu masih sama walaupun sudah lama mereka tidak bertemu, masih jago basket dan masih cakep kalau sedang berurusan dengan basket.
“Thanks ya.” Fiona meneguk isi botol itu hingga tinggal setengah, rasa hausnya terbalaskan kali ini.
“Eh, kamu udah kalah lho Fin, kapan nih mau nraktir?”
Fiona berhenti meneguk airnya, dan meletakkan botol itu disamping.
“Yah, nanti aja lah aku sms hehe.”
Hening lagi, tak ada yang memulai kali ini, dan keadaan seolah menginginkan mereka dalam keheningan yang sama. Hingga handphone Gama berdering.
Gama tersenyum pada Fiona, dan Fiona bisa menangkap maksudnya, cowok itu menjauh dan menerima telepon, Fiona tidak memperhatikannya setelah itu, entah kenapa tida ada rasa tertarik lagi untuk mencampuri urusannya.
Cowok itu kembali, dan duduk di sebelah Fiona. “Sorry, Fin kayaknya aku harus pergi sekarang deh.”
“Eh? Kenapa?”
“Ada urusan sedikit, biasalah. Duluan ya.” Gama berdiri, melambaikan tangannya lalu berbalik, Fiona bisa melihat bagaimana punggung itu pergi menjauh, dan bagaimana perasaannya pun ikut menjauh.
Ia tahu ini bukan terakhir kalinya mereka akan bertemu, tapi kapan lagi? Ia jelas harus menyelesaikan semua perasaannya sebelum benar-benar mengenakan cincin pernikahannya kelak.
“Gama!”
Gama berbalik, Fiona mengejarnya, dan ketika mereka sudah saling berhadapan akhirnya Fiona mengungkapkan sesuatu yang telah ia pendam ketika SMA dulu.
“Aku suka kamu.”
Gama tidak menjawab hanya mengerutkan dahinya, terkejut. Setidaknya itulah kata-kata yang pantas saat ini.
“Tapi waktu SMA dulu, dan sekarang kamu tahu kan aku udah punya orang lain. Jadi jangan bikin aku gak enak sama kamu kayak waktu SMA dulu, aku gak pengen kamu menjauh cuma karena keliatannya waktu itu aku suka sama kamu.”
Sebuah senyum muncul di wajah Gama, lalu tangannya mengacak-ngacak rambut Fiona. “Baiklah, maaf waktu itu aku masih agak sensi sama kamu, soalnya aku pikir kamu suka sama aku. Dan daripada memberi harapan lebih baik menjauh kan?”
Fiona menggeleng. “Salah, kalau kamu menjauh kamu cuma bikin aku nangis. Tahu gak?”
“Eh, sorry kalo gitu.” Cowok itu menggaruk kepalanya yang tak gatal, dan beberapa menit kemudian dia kembali melambaikan tangan, karena ia memang harus pergi sekarang. Fiona pun membalasnya dengan perasaan yang berbeda dari sebelumnya, ia merasa lega setidaknya semuanya telah jelas.
.
.
Tangan Fiona menarik pintu mobil dan masuk kedalamnya, seorang cowok tampan dengan kaos putih dan celana jeans telah duduk di kursi pengemudi dan menyambutnya dengan senyum.
“Menemukan sesuatu hari ini tuan putri?”
Fiona tersenyum dan mebalik telapak tangannya. “Boleh aku minta cincinnya?”
Rey mengerutkan dahi masih belum mengerti maksud permintaan tunagannya itu. “Cincinmu?”
Fiona mengangguk. “Aku sudah mengatakan hal itu padanya.”
Rey bisa menangkap maksud Fiona ia mengeluarkan cincin itu dari
kantongnya dan menarik tangan kanan Fiona. “Kau tahu, dengan begini aku sudah bisa merasa lega.”
Tangan Rey memasukkan cincin itu ke jari manis Fiona, dan tersenyum padanya, begitu juga Fiona. Saat ini mereka merasa lebih bahagia daripada ketika hari pertunangan dulu, setidaknya semua lebih jelas dan membuat mereka tidak merasakan keraguan lagi.
“Dan aku juga bahagia, karena bisa membuat semuanya jelas.”
.
.


0 komentar:
Posting Komentar