Hari ini kami bertualang. Mbolang dengan tujuan yang sudah jelas tapi butuh proses yang panjang.
Tujuan utama Admiral, pameran buku.
Proses, pinjam helm ke Ilma yang ngekos di daerah depan sekolah.
Pertama aku gak punya no nya Ilma terpaksa aku minta nenek buat sms-in Ilma nanya dia dimana, ada helm apa gak dan kita butuh helm itu.
Sukses.
Kedua aku kesana dengan Ulfah, tapi kami buta arah, dan masih gak yakin yang mana kosnya Ilma, kita memilih untuk mengsms nenek minta no-nya Ilma. Handphoneku kehabisan pulsa, handphonenya Ulfah mati.
Piye ki?
Kita menunggu dalam bingung. Awalnya aku inisiatif buat nuker kartu, dan berhasil. Tapi entah kenapa nenek tidak membalas smsku. Lama sekali sampai aku bosan.
Akhirnya kita memilih untuk membeli pulsa disekitar situ. Dengan tujuan agar aku bisa menelepon nenek secepatnya.
Sedikit pembicaraan gak penting antara aku dan mbaknya yang jualan pulsa.
Mbaknya : "Lho ini no AS mana dek?"
Aku : "Papua mbak"
Mbaknya : "Papua?"
Entahlah itu pertanyaan atau pernyataan percaya tidak percaya. Tapi mau percaya gak percaya no itu emang dari Papua dan udah hampir 6 tahun menjadi kartu ku.
Skip cerita no lama itu.
Akhirnya selesai beli pulsa secara mengejutkan ada Depe dan Chacha keluar dari gang Bedagan (red: gang kosnya Ilma)
Aku mengumpat dalam hati. "Sial nih orang kenapa gak keliatan dari tadi."
Aku :"Kosnya Ilma dimana ya?"
Chaca :" Di depan Mushola persis."
Aku : "Ndak orange yang mencolok itu?"
Chaca :" Iya nes."
Depe :"Lho kalian mau ngapain?"
Aku :" Mau pinjem helm."
Depe :"Lho Ilma punya helm?"
Rasanya pengen #gulinguling di tempat. Pernyataan itu membuatku pengen gigit orang.
Aku:"Serius?"
Depe :"Gak tau deng, coba di cek aja."
Setelah sampai di TKP ternyata Ika menyusul, dia bosan menunggu di TIC seperti anak kehilangan induk atau induk kehilangan anaknya . Aku dengan ragu-ragu di depan kos-kosan Ilma sambil ngetuk pintu.
Pintu tak menjawab, teleponpun tak dijawab. Karena geram aku memilih untuk masuk.
Tapi karena itu kos-kosan yang terdiri dari banyak kamar aku bingung.
Aku lama berdebat sama Ika dan Ulfah, sampai kemudian ada ibu-ibu yang memberi ide sangat brilian.
Ibunya :"Di matiin aja saklarnya mbak."
Aku mbatin "Itu tadi ideku juga kan."
Rada kriminal sih, matiin saklar kos-kosan orang, ntar kalau aku dikejar sama penghuninya gimana? Parah juga kan.
Aku :"Ka, bingung."
Ika :" Tinggal teriak aja bilang misi assalamualaikum."
Aku :"Gak enak lah, temenin."
Ika ngalah dia mau nemenin dan begitu masuk dia teriak-teriak kayak mbak-mbak mau minta sumbangan.
"Misi, Assalamualaikum."
Hening, tak ada yang menjawab.
Kita akhirnya memilih untuk ke lantai 2, dan menemukan ada mbak yang bisa dimintai petunjuk.
"Mbak Ilmannya dimana ya?"
"Oh disana."
Ketika kulihat kamar itu dari jendela ada Ilman dan dia tidur.
Sekali lagi aku pengen #gulinguling. Pantes teleponku gak diangkat. Err~
Helm sukro di dapat dan itulah perjuangan kami.
Untuk meminjam helm.
Helm Sukro.


0 komentar:
Posting Komentar