Kamis, 30 Desember 2010

Dia dan Kesempurnaan


Kau pernah berpikir untuk menjadi dia yang lebih beruntung menurutmu, dia yang selalu kau anggap lebih baik darimu, dia yang selalu kau anggap lebih sempurna darimu. Dia panutanmu, dan kau sahabat baiknya.

Kau selalu mengenakan apa yang ia kenakan, kau selalu meniru apa yang ia katakan, kau selalu melakukan apa yang biasa ia lakukan, dan kau hidup seolah-olah kau adalah bayangannya. Kau adalah dia yang kedua dank au menyukainya.

Dia memang tak pernah bilang kalau ia terganggu akan kelakukanmu, pemujaanmu yang berlebihan, yang selalu memujinya sebagai orang yang hebat, orang yang pintar, dengan kehidupan yang sempurna. Dia hanya bisa tersenyum setiap kau mengatakan semua itu, pujian beruntun yang tak pernah bisa dipotong siapapun. Karena tak ada yang mau mendengarkannya kecuali dia.

Dia selalu tersenyum ketika melihat keesokkan harinya kau memakai pakaian yang nyaris sama dengan pakaian yang dibelinya minggu lalu bersamamu, dia tak marah, tak pula mengeluhkan hal itu, dia hanya tersenyum dan mengatakan kalau kau cantik dengan pakaian itu.

Sesekali ada beberapa temanmu dan temannya yang mengatakan kalau kau adalah ‘dia wannabe’, kau tersenyum menanggapi dengan penuh kebanggan, kalimat itu seperti pembuktian kalau kau nyaris menyerupai dia. Sedangkan kau tak pernah bertanya bagaimana perasaan dia akan keadaan ini.

Kau bayangan yang bermain di manapun kau mau. Kau tak terkendali dan seolah-olah mau mengambil posisinya, kau semakin tak tahan bertahan menjadi bayangan. Kau ingin tahu segalanya, kau ingin menyerupai dia dalam hal apapun, tingkah laku, senyum, sifat, kepintaran, gaya berpakaian semuanya. SEMUANYA.

Yang kau tahu hanya ingin seperti dirinya, kau bertingkah seolah-olah kau sahabatnya. Padahal kau hanya belatung yang menempel padanya, kau hanya lintah yang tak pernah ingin melepaskan diri dari gumpalan darah. Bahkan kau tak pernah tahu keadaan ia sebenarnya, ketika ia tak bersamamu, dirumahnya, bersama keluarganya.

Tahukah kamu? Kalau dia dan keluarganya tak pernah baik. Ayahnya seorang pemabuk, sementara ibunya selalu pulang lebih larut dari seorang satpam. Terlalu larut. Dan kau, punya ayah dan ibu yang selalu tersenyum ketika kau pulang, menyambutmu dengan pelukan selamat datang, dan berkumpul di setiap sarapan pagi berlangsung.

Sedangkan dia, sarapan pagi sendirian. Dengan lauk yang ia masak sendiri, atau kadang-kadang ayahnya datang ke meja makan dan meminta sarapan yang berlebihan,dan ketika dia tak mampu memenuhinya akan ada sebuah luka memar atau piring pecah pagi itu, memecah keheningan.

Tahukah kamu? Dia yang kau tiru selalu mendengarkan teriakan setiap minggunya, umpatan kasar, bau alkohol, bau parfum yang menyengat, berperang di ruang tamu dengan teriakan yang saling bersahutan. Membela diri, melempar setiap barang yang ada di atas meja. Dan setiap kali hal itu terjadi dia selalu berusaha untuk memejamkan mata. Tapi air mata menembus pertahanannya, pertahanan yang selalu rapuh setiap harinya.

Sementara dirimu, selalu mendengarkan tawa setiap kali ayahmu membawa oleh-oleh dari luar kota, ibumu pun selalu berada di sana dan melepaskan lelah ayahmu dengan senyumannya. Kau bahagia diantara mereka, begitu juga adikmu. Kau punya saudara untuk berbagi.

Dan dia, yang kau puja. Tak ada. Anak tunggal. Sendirian. Entah sejak kapan ia merasa begitu sepi, sejak ayahnya memegang botol alkohol kah? Atau semenjak ibunya pulang larut? Dia tak pernah mengerti, tak pernah mau mengerti.

Tahukah kau waktu itu, di malam tahun baru ketika kau meniup terompet sementara keluargamu memainkan kembang api hingga membuat tawa bahagia dan ketakjuban darimu. Dia, dia yang kau puja, dia yang kau tiru, dia yang kau bayangi. Terbangun dari tidurnya, ketika pintu digedor dan ayahnya menyeruak masuk kedalam kamar dengan bau alkohol yang menyengat, menyeringai. Meminta sesuatu, untuk pertama kalinya.

Dia menangis paginya. Tak keras. Selimut menutupi tubuhnya yang sudah tak mengenakan pakaian lagi. Hidupnya hancur dalam 1 malam. Dia yang kau anggap sempurna.

Kau ingat sesuatu? Kau ingin menjadi dirinya. Dia yang kau anggap sempurna, yang tersenyum dengan tegar, dia yang kau kira hidup bahagia, sementara ia tinggal dalam neraka.

Kau tak akan pernah tahu, kalau esoknya tak akan ada lagi dia. Dia yang kau anggap sempurna. Jadi, masihkah kau mau seperti dia?

Dia yang KAU ANGGAP sempurna?

2 komentar:

Anonim at: 10 Januari 2011 pukul 13.36 mengatakan...

menyentuh...

{ Vanessa Praditasari } at: 18 Januari 2011 pukul 22.46 mengatakan...

@red86angel : makasih ya :)

Posting Komentar

 

Copyright © 2011 Hanya sekedar coretan. All Rights reserved
RSS Feed. This blog is proudly powered by Blogger. Design by dzignine based on Minima-White code frameworks