Hari itu aku datang ke sebuah acara yang benar-benar mengingatkanku padamu. Mengingatkanku tentang hal yang pernah kau ceritakan padaku dulu, tentang impianmu yang ingin merayakan titik penting dalam hidupmu dengan nuansa 2 warna yang begitu kau sukai.
Hitam dan putih.
Waktu itu juga kau bilang ingin melihatku dengan jas warna hitam sementara kau mengenakan gaun putih. Ketika kutawarkan untuk mengenakan pakaian yang berwarna seragam kau memasang eskpresi cemberut sembari menggeleng, kau bilang kalau kau tak ingin memiliki konsep serba sama yang dianut oleh pasangan lain di hari pernikahan mereka.
Aku hanya tersenyum waktu itu, tak berpikir sejauh yang kau pikirkan, waktu itu umur kita baru 20 tahun, aku belum berpikir untuk mengikat janji denganmu, tapi kau sudah memikirkan konsep pernikahan kita. Kau ceritakan semuanya dengan penuh semangat sementara pikiranku melayang ke pria lain yang sempat bersamamu kemarin sore, sosok yang membuatku cemburu.
Deretan meja dengan taplak putih yang nyaris menyentuh lantai dengan piring-piring diatasnya, deretan para tamu yang terlihat mulai mengincar hidangan-hidangan di atas meja, mereka tersenyum bahagia sembari memujimu dengan gaun hitam yang kau kenakan.
Ah, kau memang terlihat cantik.
Waktu itu kau juga menceritakan, kalau kau tak akan mau berdiri berjam-jam sembari menyalami satu persatu tamu mu. Kau mau beranjak dari tempat dimana biasanya pasangan suami istri berdiri dan berbaur dengan para tamu. Kau tak mau menjadi patung batu yang menyalami tamu satu persatu.
Dan ternyata kau benar-benar melakukan hal itu. Sama seperti saat kau ceritakan hal itu, sementara di waktu kau bercerita saat itu aku sedang menimbang-nimbang untuk memarahimu atau tidak.
Aku melihatmu dengan gaun hitam, kau sendirian diantara kerumunan para tamu. Kau benar-benar berbaur bersama mereka. Aku melihatmu sendirian, belum mendapati seseorang berjas putih yang seharusnya mendampingimu.
Dan ternyata saat aku melihatmu kau juga melihatku, lalu kau tersenyum pada tamu-tamu mu dan menghampiri aku, yang mengenakan kemeja hitam kesukaanmu. Kemeja hitam yang kugulung lengannya hingga menyentuh siku, kau selalu suka itu kan?
“Hai,” sapamu ragu tanpa memberi jabat tangan padaku, atau pelukan hangat seperti yang kau lakukan dulu.
“Selamat, kau terlihat bahagia hari ini,” ujarku sembari tersenyum padamu, menghapus masa lalu yang ada antara aku dan kau.
“Bagaimana kau bisa tahu?”
“Kau, tersenyum sejak tadi, bukankah itu bahagia?”
Aku melihatmu tersenyum ketika aku memberikan jawaban, seolah-olah ada yang lucu dari jawaban yang kuberikan.
“Lalu kenapa kau bisa menyimpulkan kalau aku tidak bahagia bersamamu 3 tahun lalu?”
Jawabanmu membuatku kembali mengingat kejadian 3 tahun lalu, ketika aku mengatakan padamu bahwa hubungan kita sudah tidak pantas lagi untuk diteruskan. Waktu itu kau berada di dalam mobil bersamaku, kau menangis sembari menanyakan kenapa, dan aku menjawab bahwa kau terlihat tidak bahagia bersamaku.
Setelah itu kita benar-benar putus, aku sempat punya seseorang spesial 2 bulan setelah itu, sementara kau.
Baru 2 tahun lalu aku dengar kau dekat dengan seorang pria lain.
Kalau seandainya aku menyadari kalau senyummu selama bersamaku adalah senyum kebahagiaan apa aku yang akan mengenakan jas putih itu pada hari ini. Kalau seandainya aku tidak sering menanyakan siapa saja mereka yang bersamamu padahal kau jelas-jelas tak pernah bermain di belakangku.
Seandainya bisa kubunuh rasa cemburu 2 tahun lalu. Apakah aku yang akan menjadi pengantin laki-lakimu. Aku yang akan memiliki senyum kebahagianmu. Aku yang akan mengatakan denganpenuh bangga bahwa kau istriku. Aku tidak pernah bisa menjawab semua pertanyaan itu. Aku hanya terdiam di depan seorang pengantin bergaun hitam legam yang mulai mengatakan sesuatu lagi padaku.
“Dulu kau bilang aku tidak bahagia bersamamu kan? Karena aku selalu mengatakan kalau aku ingin ini, ingin itu, ingin sesuatu yang kau tidak tahu akan kau penuhi atau tidak.”
Aku mengangkat kepala sesaat, ketika kau mengatakan alasan itu. Alasan yang membuatku memilih melepaskanmu.
"Sebenarnya waktu itu aku cuma ingin membuat bayangan. Membuat sebuah keinginan dan mewujudkannya bersamamu. Waktu itu aku masih tidak peduli apa kau berhasil mewujudkannya atau tidak.”
Aku hanya terdiam ketika kau mengatakan semua itu, aku ingin mengatakan sesuatu tapi hanya bisa menelan kata-kata itu sementara kau tersenyum padaku, mengucapkan terimakasih lalu pergi meninggalkanku yang masih merenungi kesalahan 2 tahun lalu.
“Kau tahu, kenapa penyesalan datang dibelakang?”
“Kenapa?”
“Karena kalau tidak, kau tidak akan menyesal.”
Hei wanita bergaun hitam yang sedang bersama dengan pangeran berjas putih, ingatkah dulu aku pernah mengatakan hal itu padamu.
Dan taukah kau, kalau aku menyesal melepaskanmu. Hanya karena perkiraanku.
Aku mengira kau tak bahagia bersama ku.



1 komentar:
bagus nez. feel-nya dapet banget. emang bener ya, penyesalan itu emang harus dateng belakangan. biar kita ngerti dan bisa introspeksi diri dan kesalahan2 kita.
keep writing xD
Posting Komentar