“Sukai apa yang kamu jalani jangan hanya menjalani apa yang kamu sukai”
Itu kata-kata seorang teman yang masih aku pegang sampai sekarang, di masa-masa kegalauan tentang jurusan beberapa bulan lalu. Sedikit mengenang masa lalu yang mungkin bisa menjadi pelajaran bagi orang lain.
Sebelum kelulusan aku sudah punya tujuan yang berbeda dengan tujuanku di kelas 1 ataupun 2. Dulu kelas 1 aku pengen jadi dokter, kelas 2 akuntan dan kelas 3 aku pengen jadi psikolog. Sebenarnya untuk yang ketiga aku pun masih pengen kalau ada kesempatan dan ijin #nahlho.
Tapi di kelas 3 orangtuaku udah mengarahkan untuk ngambil kedokteran, dan jujur waktu itu aku ngerasa gak mampu dan gak pengen kedokteran, sama sekali, sebenarnya lebih kuat ke arah gak mau. Menurutku udah terlalu banyak dokter di Indonesia, memang perlu ditambah tapi lebih baik ditambah dengan orang-orang yang memang mencintai dunia kedokteran, bersedia ditempatkan dimanapun dan melakukan tugasnya dengan iklhas bukan dengan orang-orang yang berniat lain-lain untuk masuk jurusan itu. Jadi aku tidak masuk kriteria sebaiknya jangan, menjalani hal setengah-setengah itu tidak baik.
Orangtuaku nyerah, setelah kegagalan mendaftar di snmptn undangan karena pilihan pertama kedokteran—berhati-hatilah mengambil pilihan untuk snmptn undangan intinya utamakan pilihan pertama dan kedua sesuai kata hati—akhirnya ortu nyerahin pilihan ke aku. Nyerahin pilihan dengan banyak saran yang serupa tuntutan.
Aku tahu niat orangtuaku baik. Sangat baik. Mereka jelas gak pengen anaknya nganggur lama setelah lulus, gak dapet pekerjaan dan lain-lain. Mereka pengen anaknya sukses dengan jalan pikiran yang mereka anggap benar, tapi sayangnya mungkin saja jalan pikiran mereka bertentangan dengan jalan pikiran kita yang menimbulkan pertentangan.
Di akhir, menjelang snmptn aku udah nyampein aku pengen jurusan apa. Sudah kusebutkan, dan ortu menentang secara tidak langsung awalnya lalu secara langsung dan terang-terangan. Aku memang mengincar jurusan itu tapi yang berada di luar kota, awalnya mereka menentang dengan alasan tidak boleh diluar kota.
Aku ngotot, jelas. Sampai setiap kali aku dan ortu bahas masalah itu pasti aku nangis. Gak pernah gak. Gimanapun rasanya gak enak, tapi tetap ngerasa harus dan harus bela tujuanku sendiri.
Sampai pada akhirnya aku benar-benar minta sama mamaku, malam-malam setelah beliau solat tahajud itu satu hari sebelum hari penutupan pendaftaran snmptn. Benar-benar kesempatan terakhir, butuh waktu lama untuk ngomong mungkin ada 15 menit aku diam disamping mama yang lagi dzikir sampe akhirnya aku ngomong. Awalnya gak pengen nangis tapi mau gimana lagi, udah terlanjur netes.
Dan sampai akhir keputusan orangtuaku bulat. Gak bolehin aku masuk jurusan itu. sebenarnya dari perdebatan itu aku sadar yang bermasalah bukan luar kota atau bukan tapi jurusan itu sendiri. Walaupun luar kota itu juga jadi salah satu alasan penguat. Untuk alasan lebih lengkapnya. Pikiran setiap orang itu beda-beda dan kebetulan pikiran orangtuaku itu jauh berbeda dengan jalanan pikiranku, itu intinya.
Akhirnya aku ikut snmptn dengan pilihan pertama pilihan orangtua dan pilihan kedua pilihanku sendiri tapi yang ada di dalam kota, jadi rasanya pun beda. Aku gak terlalu banyak berharap waktu itu.
Sampai kemudian aku keterima di pilihan pertama. Awalnya seneng, seneng banget. Tapi setelah itu rasanya kosong, aku sempat bujuk buat ikut simak UI tapi mau gimana lagi. Udah keterima di akuntansi yang dipengenin ortu udah gak mungkin lagi buat ikut tes lagi.
Disitu rasanya masih nyesek banget. Tapi mau gimana lagi. Mungkin iya awalnya kepaksa kadang masih ngerasa iri sama teman lain yang berhasil masuk ke jurusan yang bener-bener mereka penginin. Tapi mau gimana lagi? Life must go on.
Mungkin dibutuhin jalan yang memutar untuk kembali ke tujuan awal. Siapa tahu jurusan akuntansi ini bisa jadi batu loncatan buat aku mencapai apa yang aku cita-citakan. Atau bisa saja aku mempelajari apa yang aku pengenin disambi dengan kuliah ditempatku sekarang. Benar kalau dibilang aku berusaha menghibur diri sendiri. Tapi aku juga gak mau meratapi nasib. Sudah cukup lama aku meratapi nasib, semenjak menjelang kelulusan hingga snmptn. Cukup lelah juga nangis karena hal yang sama.
Mau bagaimanapun mereka orangtua kita. Kita bisa berusaha dengan membuktikan kalau pilihan kita bisa jadi benar. Tapi kalau usaha kita kalah dengan jalan pikiran mereka mau gimana lagi?
Bukannya pasrah, apalagi menyerah. Hanya mundur untuk menyiapkan strategi yang lebih baik.
Anggap saja begitu.
Dan bagi yang mampu meyakinkan orangtuanya. Selamat. Kalian butuh usaha lain untuk membuktikan bahwa pilihan kalian adalah benar.


0 komentar:
Posting Komentar