Sabtu, 13 November 2010

Di Dalam Bis Kota


Pernahkah kau berpikir bagaimana kehidupan mereka? Mereka yang hanya kau lihat sekilas ketika kau menyebrangi jalan? Atau mereka yang hanya kau tatap selama beberapa menit ketika berada di dalam bis, atau mereka yang sedang duduk di pinggir jalan dengan tangan terangkat ke atas sembari memohon padamu dengan tatapan memelas?

Pernahkah kau bertanya pada mereka, akan kemana mereka? Apa yang mereka inginkan? Apa yang mereka cita-citakan? Dimana mereka tinggal? Dan apakah mereka memiliki sesuatu yang harus mereka ceritakan pada kita?

Mungkin tidak.

Bagaimana kalau sekarang kau memasuki sebuah bis, dan mendapati di sana ada seorang anak yang seumur denganmu, seorang perempuan yang meletakkan sebuah tas besar dipangkuannya. Duduk disampingmu. Mungkin kau akan berpikir kalau perempuan itu adalah seorang petualang, atau seorang anak berusia 17 tahun yang sedang kembali ke kampung halamannya, mungkin perempuan itu ngekos, atau perempuan itu akan melakukan penjelajahan, berkemah mungkin.

Pernah kau bertanya kenapa dia membawa tas besar itu? Tas yang sering kau sebut sebagai tas gunung, dengan isi yang menggelembung, dan terlihat berat di pangkuan anak perempuan itu.

Dia—perempuan itu— sedang pergi, meninggalkan ibu dan ayahnya yang membuatnya kecewa. Kau tak tahu itu kan?

Dia—perempuan itu— sedang bingung, memilih dimana ia akan tinggal untuk malam ini. Di jalanan kah? Di rumah temannya kah? Atau di hotel kah?

Dia—perempuan itu— sudah memutuskan, tak akan tidur di jalanan, tak akan tidur di rumah temannya, apalagi di hotel. Ia memilih untuk menelpon sumber masalahnya dengan orangtuanya, dengan panggilan sayang. Meminta ijin untuk menginap di rumahnya.

Kau meliriknya sekilas ketika ia melontarkan panggilan sayang melalui telpon genggam yang di pegangnya. Kau tersenyum kecut, kapan kau akan memberikan panggilan itu pada seseorang. Lalu, kau memilih diam, melirik ke seseorang yang duduk di samping kananmu, terpisah oleh sela antara kursi-kursi yang berjajar.

Seseorang dengan peci dan baju koko melihat ke arah jendela, menatap dengan tatapan kosong. Kau pasti menebaknya sebagai seseorang yang alim dan baru saja pulang dari masjid terdekat, mungkin baru saja menunaikan solat Jumat. Atau kau mungkin menebaknya sebagai seorang pria yang baru saja pergi dari sebuah acara yang berbau pesantren.

Tapi pernahkah kau menebak, kalau ia—pria itu— baru saja mengenakan sandal baru.

Bukan, bukan sandal yang ia beli dengan uangnya sendiri. Tapi sandal yang ia ambil secara diam-diam dan membuat seolah-olah sandal yang terlihat mahal itu sebagai miliknya, meninggalkan sebuah sandal jepit karet yang murah di depan pintu masjid. Mungkin sebagai ucapan terimakasih bagi pemilik sandal mahal karena telah membuatnya bisa memiliki sandal baru.

Ia—pria itu—sedang memikirkan tentang kesalahan atas perbuatannya, tentang pengalaman barunya. Dan sedang menimbang-nimbang akan melakukan apa dengan sandal barunya itu.

Ia—pria itu—baru saja memutuskan ketika bis berhenti untuk ngetem sebentar, sandal itu akan menjadi salah satu barang dagangannya di pasar nanti, dengan harga yang cukup lumayan.

Kau memilih untuk membuka handphonemu ketika bis ngetem mengalihkan pandangan dari pria berpeci dan berbaju koko itu. Kau melihat apakah handphonemu menerima sebuah sms. Tapi ternyata tidak, hanya ada wallpaper di tampilan handphonemu, tanpa sebuah pesan baru disana.

Sekarang lihatlah seseorang yang berada di sebelah pria berpeci dan berbaju koko itu, dia yang sedang membuka koran dengan harga 2000 yang baru saja dijajakan oleh penjual koran antar bis. Kau mungkin berpikir dia yang berkemeja putih dan bertas hitam itu adalah seorang pekerja kantoran yang baru saja pulang dari kantornya.

Pernahkah kau berpikir kalau ia—pria berkemeja itu— adalah seorang mahasiswa yang sudah lulus setahun lalu tapi belum memiliki pekerjaan juga.

Ia—pria berkemeja itu— sedang memilih-milih lowongan yang mana yang pas untuknya. Lulusan sebuah universitas negeri terkemuka yang belum juga menemukan pekerjaan.

Ia—pria berkemeja itu— sudah melingkari salah satu lowongan pekerjaan di koran itu dengan stabilonya, lalu tersenyum optimis ketika ia selesai melingkarinya.

Ia—pria berkemeja itu— dengan dahi yang berkerut mengganti pilihannya dengan pilihan yang lain, menimbang-nimbang lagi dan terus menimbang hingga bis berhenti menurunkanmu dari bis.

Kau menginjakkan kaki di trotoar, dan dibelakang bis yang kau tumpangi tadi banyak kendaraan yang berhenti dan memilih untuk tidak menyalip, ada beberapa dari mereka yang mengenakan jas hujan, karena hujan baru saja turun beberapa menit lalu. Ada juga beberapa dari mereka yang basah kuyup karena mereka tak membawa jas hujan. Entah dengan alasan apa, kau tak memikirkannya.

Lalu ketika kau melangkahkan kaki hendak menyebrangi jalan sebuah mobil berwarna hitam melaju kencang di depanmu, melewati sebuah kubangan becek dan membuat semua air pada kubangan itu muncrat ke arahmu. Persis seperti ketika kau menginjakkan kaki dengan cepat ke dalam kubangan itu, tapi bedanya, air itu tak akan membuat bajumu kotor seperti yang kau alami saat ini.

Kau mengumpat kesal, menyumpahi pemilik mobil itu dengan sumpah serapah. Membatalkan niatmu untuk menyebrang jalan, untuk membersihkan baju putihmu yang terkena bercak noda hitam dan basah.

Kau terus mengumpat, tanpa pernah berpikir bahwa dengan atau tanpa umpatanmu pun bercak noda hitam itu tak akan menghilang dari tempatnya.

Tapi pernahkah kau berpikir kenapa pengemudi itu terburu-buru?

Kau tahu, ada seorang calon ayah baru di dalam mobil itu, dan seorang calon ibu yang akan melahirkan.

Mungkin kau akan menelan kembali sumpah serapahmu tadi kalau kau tahu hal itu.

Mungkin juga tidak, selagi itu bukan urusanmu.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Copyright © 2011 Hanya sekedar coretan. All Rights reserved
RSS Feed. This blog is proudly powered by Blogger. Design by dzignine based on Minima-White code frameworks